Liputan Nusantara News.Com _ Minggu, 12 April 2026 Pasca memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi, H. Hairul Umam (H. HER) kembali ke kediamannya di Madura dengan sambutan luar biasa dari ribuan masyarakat. Kehadiran warga yang memadati area sekitar kediaman menunjukkan tingginya antusiasme dan dukungan terhadap sosok yang dikenal dekat dengan kalangan petani tersebut.
Dalam pernyataannya kepada awak media, H. HER menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di garis depan dalam membela kepentingan petani, khususnya petani tembakau di Madura. Ia menyampaikan bahwa perjuangan tersebut akan tetap dijalankan, meskipun harus menghadapi berbagai risiko dan tantangan besar.
“Antusiasme masyarakat ini menjadi energi bagi kami untuk terus berjuang. Ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang harapan para petani dalam menghadapi musim panen yang akan datang,” ujar H. HER.
Lebih lanjut, H. HER juga mengungkapkan rencananya untuk melakukan silaturahmi (sowan) kepada ulama sepuh Madura, KH. Rofi’ie Baidawi, pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Pertemuan tersebut direncanakan sebagai forum musyawarah guna membahas langkah strategis dan solusi terbaik bagi keberlangsungan petani tembakau di masa depan.
Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dukungan dan kehadiran masyarakat yang telah menyambutnya dengan penuh kehangatan.
Berdasarkan pantauan di lapangan dan keterangan sejumlah tokoh masyarakat serta ulama yang hadir, terdapat tiga poin utama dalam kegiatan penyambutan tersebut. Pertama, pelaksanaan istighosah sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan. Kedua, ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan, khususnya dalam menyambut musim panen raya. Ketiga, sebagai bentuk solidaritas dan kebersamaan dalam merasakan kondisi serta perjuangan yang tengah dihadapi masyarakat, terutama para petani.
Momentum ini tidak hanya menjadi simbol dukungan moral, tetapi juga memperkuat semangat kolektif masyarakat Madura dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial ke depan.
(Umam Malik)













