BeritaRagam

Perjuangan Mengharukan Dosen IAIMU Pamekasan Meraih Gelar Doktor

359
×

Perjuangan Mengharukan Dosen IAIMU Pamekasan Meraih Gelar Doktor

Share this article

Liputan Nusantara News.com | Perjalanan meraih gelar doktor tidak selalu dihiasi kebahagiaan. Bagi Muchlis, dosen Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIMU) Pamekasan, keberhasilan menyandang gelar doktor justru menjadi puncak perjuangan yang ditempa oleh kehilangan orang-orang tercinta.

Di ruang ujian promosi doktor Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (27/6/2026), Muchlis resmi dinyatakan lulus setelah berhasil mempertahankan disertasinya. Suasana haru menyelimuti momen tersebut, sebab di balik senyum keberhasilannya tersimpan kisah perjuangan yang penuh ujian.

Putra asal Pamekasan, Madura, itu harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ayah meninggal dunia pada 2021, bertepatan dengan awal kariernya sebagai dosen. Tiga tahun berselang, saat proses penyusunan disertasinya memasuki tahap ujian proposal, sang ibu juga berpulang. Belum usai duka tersebut, promotornya pun wafat setelah menyetujui naskah disertasinya dan belum sempat menyaksikan ujian promosi doktor.

Meski diterpa kehilangan bertubi-tubi, Muchlis memilih tetap melangkah hingga berhasil menuntaskan amanah yang selama ini ditanamkan kedua orang tuanya, yakni terus menuntut ilmu.

“Almarhum bapak dan almarhumah ibu tidak lulus SD. Mereka tidak pernah menyuruh saya bekerja membantu membuat genting dari tanah liat. Yang selalu mereka minta hanya belajar,” ungkap Muchlis dengan mata berkaca-kaca.

 

Lahir dari keluarga sederhana, Muchlis mengaku kedua orang tuanya memiliki keterbatasan pendidikan. Namun, mereka meyakini bahwa pendidikan merupakan warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak-anaknya. Pesan sederhana itulah yang terus menjadi penyemangat hingga ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor.

Kesempatan menempuh studi doktor diperolehnya melalui program Beasiswa LPDP-BIB Kementerian Agama RI setelah berhasil bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya, Muchlis menempuh pendidikan sarjana di STAI Miftahul Ulum Pamekasan dan menyelesaikan program magister di IAIN Madura.

Dalam ujian promosi doktor, Muchlis mempertahankan disertasi berjudul “Resiliensi Perkawinan Jarak Jauh: Studi Fenomenologi Keluarga Buruh Migran Madura“, sebuah penelitian yang mengangkat realitas sosial masyarakat Madura, di mana banyak pasangan suami istri harus menjalani kehidupan rumah tangga secara terpisah akibat pekerjaan di luar daerah maupun luar negeri.

Melalui pendekatan fenomenologi, ia meneliti pengalaman keluarga buruh migran dari empat kabupaten di Pulau Madura untuk memahami bagaimana mereka mempertahankan keutuhan rumah tangga di tengah jarak, kerinduan, perubahan peran keluarga, tantangan pengasuhan anak, hingga tekanan sosial.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketahanan keluarga bukanlah kondisi tanpa masalah, melainkan kemampuan pasangan dalam beradaptasi menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi fondasi penting, tetapi harus diperkuat dengan kepercayaan, komitmen, dan kemampuan saling memahami.

Tak hanya itu, penelitian tersebut juga mengungkap besarnya peran sistem kekerabatan Taneyan Lanjhang, budaya khas masyarakat Madura yang melibatkan keluarga besar dalam mendukung keberlangsungan rumah tangga. Orang tua, saudara, paman, bibi, hingga kakek dan nenek berperan aktif dalam pengasuhan anak, memberikan dukungan emosional, membantu kebutuhan sehari-hari, hingga menjadi penengah ketika terjadi konflik keluarga.

Muchlis juga menemukan bahwa nilai budaya Madura, khususnya Tèngka, menjadi modal sosial yang memperkuat ketahanan keluarga. Nilai tersebut mendorong pasangan untuk menjaga kesetiaan, menghormati keluarga pasangan, mengedepankan tabayun saat menghadapi persoalan, menjaga nama baik keluarga, serta memandang pernikahan sebagai amanah yang harus dipertahankan. Nilai-nilai itu berpadu erat dengan ajaran Islam yang menekankan kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen dalam membangun rumah tangga.

Berangkat dari temuan tersebut, Muchlis mengembangkan konsep Collective Cultural Resilience, yakni model resiliensi keluarga yang menempatkan budaya lokal, nilai agama, dan sistem kekerabatan sebagai pilar utama dalam menjaga keutuhan keluarga buruh migran. Konsep ini menegaskan bahwa ketahanan keluarga tidak hanya dibangun oleh suami dan istri, tetapi juga diperkuat oleh dukungan sosial serta budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Di sela kesibukan menyelesaikan studi, Muchlis juga aktif menghasilkan berbagai karya ilmiah. Ia telah menerbitkan artikel pada jurnal nasional maupun internasional bereputasi, termasuk jurnal terindeks Scopus, serta menulis buku yang membahas hukum perkawinan Islam dan pendidikan pesantren.

Ke depan, ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kajian hukum keluarga Islam, khususnya dalam memahami dinamika keluarga buruh migran, sekaligus menjadi referensi bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam merumuskan program yang berpihak pada ketahanan keluarga di Indonesia.

Bagi Muchlis, gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik. Lebih dari itu, gelar tersebut merupakan persembahan terakhir bagi kedua orang tuanya yang sepanjang hidup hanya memiliki satu pesan sederhana namun bermakna mendalam: teruslah belajar

(Umam Malik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *